Garut, suarajabarbanten.my.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Garut kembali menjadi sorotan. Dalam kurun waktu sepekan, dua insiden berbeda di dua lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memicu kekhawatiran masyarakat terkait kualitas makanan dan efektivitas pengawasan di lapangan.
Insiden pertama terjadi di SPPG Pasirkiamis. Sejumlah laporan menyebutkan adanya dugaan penurunan kualitas makanan akibat waktu penyimpanan yang terlalu lama sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat memengaruhi mutu serta keamanan pangan, terutama bagi pelajar yang menjadi sasaran utama program.
Belum reda perhatian publik terhadap kasus tersebut, laporan serupa juga muncul dari SPPG Banjarwangi. Dalam waktu yang hampir bersamaan, muncul keluhan terkait standar pengelolaan dan distribusi makanan. Dua kejadian ini memicu pertanyaan publik: apakah pengawasan dan kontrol mutu sudah berjalan optimal ?
Sejumlah orang tua siswa mengaku cemas. Mereka berharap program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi anak justru tidak menimbulkan risiko kesehatan baru. “Programnya sangat baik, tapi pelaksanaannya harus benar-benar diawasi. Jangan sampai anak-anak jadi korban kelalaian,” ujar salah seorang wali murid.
Pengamat kebijakan publik menilai, persoalan ini mengindikasikan adanya celah dalam implementasi standar operasional prosedur (SOP) di tingkat dapur produksi. Pengawasan berkala, audit kebersihan, serta kontrol suhu dan waktu penyimpanan makanan menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan.
Program MBG sendiri merupakan kebijakan nasional yang bertujuan memperbaiki status gizi anak sekolah dan kelompok rentan. Namun, insiden yang terjadi berulang di sejumlah daerah, termasuk Garut, menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan manajemen distribusi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait di tingkat daerah diharapkan segera melakukan investigasi dan memberikan klarifikasi resmi kepada publik. Transparansi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program yang menyangkut kesehatan generasi muda.
Kasus di Pasirkiamis dan Banjarwangi menjadi pengingat bahwa keberhasilan program sosial tidak hanya diukur dari skala distribusi, tetapi juga dari konsistensi menjaga standar kualitas dan keamanan bagi para penerimanya.Kabiro ( CM )