SUBANG, suarajabarbanten.my.id – Upaya awak media untuk menjalankan fungsi kontrol sosial justru mendapat perlakuan tak bersahabat dari pihak PKBM Bina Usaha. Saat hendak melakukan klarifikasi terkait dugaan manipulasi data siswa dan rombongan belajar (rombel), petugas di lokasi malah menunjukkan sikap agresif dan cenderung menghalangi kerja jurnalistik.
Insiden terjadi ketika tim media datang secara resmi dan menyampaikan maksud untuk mengonfirmasi adanya perbedaan data mencolok antara yang tercatat di sistem Dapodik—sebanyak 13 rombel—dengan kondisi riil di lapangan yang diduga hanya 4 rombel aktif.
Alih-alih memberikan penjelasan terbuka, pihak yang berada di lokasi justru merespons dengan nada tinggi, bersikap defensif, bahkan terkesan menantang dan mengusir awak media.
“Kami datang secara baik-baik untuk klarifikasi agar pemberitaan berimbang. Tapi yang kami terima justru sikap agresif dan nada bicara yang tidak pantas,” ujar salah satu awak media, Jumat (25/4).
Sikap tersebut memunculkan pertanyaan serius: ada apa di balik perbedaan data ini? Dugaan manipulasi rombel bukan persoalan sepele, karena berkaitan langsung dengan potensi penyimpangan dana bantuan pendidikan yang bersumber dari negara.
Sebagai lembaga pendidikan nonformal, PKBM semestinya menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas. Penolakan terhadap klarifikasi publik justru memperkuat dugaan adanya hal yang ditutupi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola PKBM Bina Usaha belum memberikan pernyataan resmi, baik terkait dugaan manipulasi data maupun insiden sikap agresif terhadap awak media.
Desakan kini mengarah kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Subang untuk segera turun tangan. Pemeriksaan menyeluruh dinilai mendesak dilakukan, termasuk memanggil pengelola PKBM guna mempertanggungjawabkan temuan di lapangan.
Publik menuntut transparansi. Jika terbukti terjadi pelanggaran, sanksi tegas harus dijatuhkan agar praktik serupa tidak kembali terjadi dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tetap terjaga.***(Tim/Paris)
