TpWiBSC0BUAoTfA5GfAiGfr0Td==

Orang Tua Penerima MBG Bandung Barat Keberatan atas Menu SPPG Baranangsiang, Minta Evaluasi Segera

 


‎Bandung Barat, suarajabarbanten.my.id – T (38)  Orang tua penerima manfaat Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang ngengan di sebut namanya, di Kabupaten Bandung Barat menyampaikan keberatan atas menu makanan yang disediakan oleh SPPG Baranangsiang di bawah naungan Yayasan Riyadul Muta’alimin Mustofa. Menu yang diterima anak-anak dinilai menurun kualitasnya dibandingkan penyedia sebelumnya, SPPG Sarinagen, sehingga sering tidak dikonsumsi dan berujung terbuang. Kamis, 5/02/2026

‎Program MBG sejatinya bertujuan memastikan anak-anak sekolah dasar memperoleh gizi layak untuk mendukung tumbuh kembang dan semangat belajar. Namun, sejak pergantian penyedia, banyak menu yang dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan maupun selera anak-anak. Kondisi ini menimbulkan keresahan di kalangan orang tua penerima manfaat.  

‎Kutipan Resmi Orang Tua:  

‎"Kami tidak menolak program MBG, justru kami sangat mendukung tujuan mulia ini. Tetapi kami kecewa karena menu yang diberikan akhir-akhir ini tidak sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Banyak yang tidak dimakan, akhirnya terbuang. Kami berharap pemerintah dan pihak terkait segera turun tangan, agar anak-anak kami kembali mendapatkan makanan bergizi yang benar-benar layak, sebagaimana dulu ketika disediakan oleh SPPG Sarinagen."  

‎Dalam konfirmasi via pesan WhatsApp, Ketua Yayasan Riyadul Muta’alimin Mustofa, H. Nandi Purnama, menyebutkan menu MBG untuk Kamis, 5 Februari 2026 terdiri dari:  

‎- Buah anggur merah (4 butir)  

‎- Nasi putih dengan sedikit bumbu  

‎- Telur dimasak dan diiris tipis  

‎- Tempe sebagai sumber protein nabati  

‎- Campuran kacang polong hijau dengan potongan wortel kecil dalam kuah ringan  

‎Menu tersebut memicu perdebatan karena dianggap tidak sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menekankan agar telur disajikan dalam bentuk ceplok. Ketua Yayasan mengakui bahwa usulan penyajian telur ceplok sempat dibicarakan bersama tim chef, namun terkendala teknis dalam penyediaan 3.000 porsi.  

‎Tanggapan Kepala SPPG Baranangsiang, Hilmi Fatwa:  

‎"Prioritas utama program ini adalah pemenuhan standar gizi, kebersihan, dan keamanan pangan. Terkait teknis penyajian, termasuk apakah telur disajikan rebus atau ceplok, akan disesuaikan dengan pedoman resmi Badan Gizi Nasional serta kondisi di lapangan. Kami memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi dan terbuka untuk berkoordinasi agar pelaksanaan tetap sesuai aturan dan tujuan program."  

‎Hilmi menambahkan bahwa terdapat kekeliruan dalam penyajian telur yang seharusnya disajikan utuh, bukan dipotong-potong. Namun gramasi telah disesuaikan dengan kebutuhan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Hal ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan seluruh pelaksanaan mengikuti pedoman resmi.  

‎Penegasan Orang Tua Penerima Manfaat:  

‎- Program MBG harus berorientasi pada kebutuhan gizi anak-anak, bukan sekadar formalitas distribusi.  

‎- Menu yang tidak dimakan dan berujung mubazir menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam perencanaan dan pelaksanaan.  

‎- Pemerintah dan pihak terkait diminta segera melakukan evaluasi terhadap penyedia SPPG Baranangsiang dan mengembalikan standar menu yang layak sebagaimana sebelumnya di SPPG Sarinagen.  

‎T (38) Orang tua penerima manfaat menegaskan bahwa suara ini disampaikan demi tercapainya tujuan mulia Program MBG: mendukung kesehatan, gizi, dan semangat belajar anak-anak sekolah dasar. Evaluasi segera diharapkan agar kepercayaan masyarakat terhadap program tetap terjaga dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak. tutupnya***RT.Rondo

 

Type above and press Enter to search.