CIANJUR, JAWA BARAT – Fenomena sulitnya mencari kerja tanpa "jalur belakang" kembali mencuat. Kali ini, keluhan datang dari Tubagus Rajib Gandi Hidayat, seorang pemuda asal K.P Belendung RT 04/05, Desa Jatisari, Kecamatan Bojongpicung, Kabupaten Cianjur. Sejak lulus dari SMK Seneper pada tahun 2021, hingga kini dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan tetap.
Meski telah berusaha melamar ke berbagai perusahaan dan instansi selama hampir lima tahun terakhir, Tubagus mengaku selalu menemui jalan buntu. Menurut pengakuannya, hambatan terbesar bukanlah pada kualifikasi atau kemampuan, melainkan adanya praktik pungutan liar atau syarat "uang masuk" yang dipatok oleh oknum-oknum tertentu.
Fakta Utama di Lapangan:
- Lulusan Tahun 2021: Tubagus merupakan lulusan SMK Seneper yang siap kerja, namun terpaksa menganggur selama 3-4 tahun.
- Kendala Biaya: Dalam upayanya mencari nafkah, ia kerap dihadapkan pada situasi di mana pelamar harus menyediakan sejumlah uang agar bisa diterima bekerja.
- Kondisi Ekonomi: Sebagai warga desa, tuntutan biaya masuk kerja yang tinggi menjadi tembok besar yang mustahil ditembus tanpa bantuan finansial.
"Saya sudah melamar ke mana-mana, tapi kenyataannya pahit. Semuanya harus pakai duit. Kalau tidak ada uang, sepertinya tidak bisa bekerja. Ini sangat memberatkan kami yang benar-benar ingin mencari nafkah dari nol," ujar Tubagus saat menyampaikan keluhannya.
Harapan bagi Pemerintah Daerah
Kisah Tubagus hanyalah puncak gunung es dari keresahan para pencari kerja di wilayah Cianjur dan sekitarnya. Ia berharap adanya pengawasan ketat dari Pemerintah Kabupaten Cianjur dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) terhadap proses rekrutmen di perusahaan-perusahaan agar lebih transparan dan bersih dari praktik jual-beli jabatan.
Hingga berita ini diturunkan, Tubagus masih berharap adanya mukjizat atau bantuan dari pihak-pihak yang peduli terhadap nasib tenaga kerja lokal yang kompeten namun terhalang biaya. (SJB)
